Alhamdulillah, Akhirnya memiliki kesempatan juga untuk melanjutkan
catatan ini, ditengah hangatnya suasana menjelang Pemira di Kampus.
Juga di awal November ini, hujan yang meneduhkan akhirnya menyapa
Jogja, namun tentu saja membuat warga di sekitar bantaran Kali aliran
lahar dingin Merapi harus waspada.
Catatan kali ini ingin
kupersembahkan untuk mengenang peristiwa tepat setahun yang lalu.
bersama Bara Breelian, Mbak Ria, Mas Nendi, Mbak Echa, Mbak Meichy,
Mas Andi.
Bagi warga di lereng Merapi, boleh jadi ini
adalah peristiwa yang paling mengharukan dalam hidup mereka, karena
tahun lalu tepat tanggal 4 dan 5 November dini hari, lahar dan awan
panas Merapi menerjang hingga 18 km dari puncak Merapi, erupsi terbesar
sejak 100 tahun yang lalu. Tentu saja dampaknya juga teramat besar,
ribuan rumah luluh lantak, ratusan jiwa menjadi korban ke dahsyatan
erupsi Merapi kala itu.
Ini adalah catatanku untuk
mengenang peristiwa hari itu. walaupun berada cukup jauh dari aliran
lahar dan awan panas Merapi, namun hari itu boleh dibilang menjadi
titik nadir kepasrahanku antara hidup dan mati. Berlebihan mungkin,
namun memang seperti itulah yang kurasakan.
Semoga memori hari itu masih bisa tertuang baik dicatatanku kali ini.